Langsung ke konten utama

Penjaga Al Quran

Rosulullah SAW. bersabda: 

“Penghafal Al Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Qur’an akan berkata: ’Wahai Tuhanku bebaskanlah dia.’ Kemudian orang itu dipakaikan mahkota kehormatan. Al-Qur’an kembali meminta: ‘Wahai Tuhanku tambahkanlah.’ Maka orang itu dipakaikan jubah karomah. Kemudian Al Qur’an memohon lagi: ‘Wahai Tuhanku ridhoilah dia.’ Maka Allah pun meridhoinya. Dan diperintahkan kepada orang itu: ‘Bacalah dan terus naiki derajat-derajat Surga.’ Dan Allah menambahkan setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan." (HR. Tirmidzi)

Penjagaan Al Qur’an adalah bentuk kemuliaan, di mana Al Qur’an adalah mulia, maka sang penjaganya akan mulia juga karenanya
dan kemuliaan ini tidak terbatas bagi yang sehat saja, mereka para disability juga mendapat peluang. Seringkali kita lihat mereka yang tuna netra sebagai penghafal Al Quran, ada juga yang lumpuh tetapi hafal Al Quran, dan ada juga tuna wicara yang menghafal Al Quran. Bisa kalian bayangkan, mereka saudara kita ini tuna wicara, tidak dapat berbicara tapi mereka tetap berusaha menghafalkan Al Quran




These children are unable to speak yet they are memorising the Qur'an at a mosque in Ta'if, Saudi Arabia. After they learn a portion of the Qur'an, the teacher tests them through sign language


https://t.co/Pgr0j6G1Tw

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INSPIRASI DARI KISAH BOLU PISANG DAN ES KRIM PART 3

 "Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu." lapor putra sulungnya.  "Bagus dong, les dimana dia?"  "Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok."  "Hey, gak boleh menghina orang lain." Bu Tia melotot pada putranya.  "Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma." Fahri bercerita panjang lebar.  Bu Tia terdiam.  Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktif ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.  "Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Fachri membuyarkan lamunannya.  "Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles sela...

alhamdulillah

bertemu dengan orang-orang yang baik , lewat dunia nyata maupun maya banyak membuka mataku bahwa kondisi imanku masih jauh sekali dibandingkan mereka alhamdulillah aq dipertemukan Nya dengan mereka, dan sekarang lewat dunia mayapun aku bertemu dengan orang-orang baik itu lagi, semakin banyak ...semakin banyak saja mereka, sungguh luar biasa, aq tidak mengenal mereka, tapi aq bisa belajar dari mereka, , apa yang mereka tulis dan bagikan  sangat mampu mengubah orang lain, pastilah mereka menuliskannya dari hati, karena apa-apa yang berasal dari hati akan sampai ke hati :) aq jadi ingat tentang surat dari adikku yang disertakan bersama hadiah sebuah jam tangan saat ulang tahunku ke 29 kemarin, aq lupa meletakannya dan sekarang merasa sangat kehilangan surat itu. surat berisi tulisan hatinya sebanyak 2 lembar bolak-balik itu sangat berharga untukku, karena pasti ia menulikannya sepenuh perasaan ^_^. semoga aq bisa menemukan kembali kemudaian menuliskannya lain ...

Hal-hal yang merusak jiwa

Tulisan ini dari kajian Jelajah Hati bersama Ust Syatori AR, diambil di link ini , dulu waktu di jogja saya suka sekali dengan kajian2 beliau, sampai sekarang pulang daerahpun saya mendonlod banyak sekali file kajian beliau :)   Hal-hal yang Merusak jiwa Jiwa adalah karunia Allah, yang pada awalnya Allah ciptakan begitu sempurna untuk manusia. Dimanakah jiwa itu sekarang? Jiwa berada dalam raga kita.  Allah sampaikan demikian dalam sumpah-Nya: وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا Demi jiwa (dengan) segala penyempurnaannya (Q.S. Asy Syams: 7) Allah tidak pernah bersumpah dengan raga manusia, tetapi dengan jiwa manusia. Tidak pernah Allah menyebut "Demi hidung" atau "demi kaki" atau "demi otak". Hal ini berarti Allah benar-benar menaruh perhatian khusus bagi jiwa manusia. Kita lebih sering melihat orang lain dari fisik atau raganya dulu. Berbeda dengan Allah yang melihat manusia hanya dari jiwanya saja. Mari melihat jiwa. Jiwa yang utuh ak...